KING: Behind the Novel
Tahun-tahun belakangan ini dunia perbukuan Indonesia dimarakkan oleh jenis buku adaptasi dari film. Sebagai sebuah eksplorasi kreativitas, tentu saja genre ini menjadi menarik untuk disimak; mengingat tidak setiap film akan dibukukan dan tidak setiap penulis memperoleh kesempatan untuk menuliskannya. Bagaimana sih caranya memproses penulisan novel adaptasi? Apakah cukup hanya membaca skenario? Perlukah secara khusus menonton filmnya terlebih dahulu? Perlukah melakukan konsultasi dengan pihak produser dan sutradara? Bagaimana caranya mengeksplorasi soul/spirit/jiwa dari film tersebut? Benarkah novel adaptasi KING berbeda dengan novel-novel adaptasi lainnya? Benarnya naskah awalnya harus mengalami revisi berkali-kali? Bagaimana sang penulis harus menjalani proses kreatifnya sambil berkonsultasi jarak jauh hingga ke Bangkok? Iwok Abqary, salah seorang penulis produktif Indonesia, akan membuka rahasia di balik penulisan novel adaptasi KING. Ia akan membagikan pengalaman suka maupun duka, serta tip-trik hingga akhirnya naskah karyanya dinyatakan "lulus" oleh Nia Sihasale Zulkarnaen dan Ari Sihasale untuk diterbitkan. Selain itu, Anda juga bisa menggali lebih jauh dengan bertanya langsung kepada pengarangnya mengenai berbagai hal dalam talkshow-nya di PESTA BUKU JAKARTA 2009. Jangan lewatkan kesempatan ini, karena selain membuka wawasan, mungkin akan tiba giliran Anda diminta untuk menuliskan buku adaptasi. Catat jadwalnya: Hari/tanggal: Minggu, 5 Juli 2009Pukul: 18.30 WIBTempat: Stand Kelompok Agromedia, Pesta Buku Jakarta 2009, Istora Senayan.Baca novelnya, nonton filmnya mulai 25 Juni 2009 http://aleniapictures.com/kingmovie/Labels: King, talkshow
It's time to celebrate, it's time for a party!
 I've been to Dublin, once, and it's still remarkable memories! Gimana enggak, it was my first trip abroad, dan langsung menuju kota yang sangat mengesankan; full of antiques! Gedung-gedung peninggalan jaman dulu yang masih terawat dengan baik terhampar di setiap bagian, memberikan pesona yang luar biasa bagi wisatawan. Sayang, waktu yang singkat tidak bisa memberikan banyak celah untuk mengexplore setiap sudut kota Dublin, termasuk Guinness storehouse!! Hikss ... Dublin adalah kampung halaman bagi Guinness. Brand minuman yang sudah menjajah seluruh penjuru dunia ini begitu melekat dengan citra Dublin. Lihat saja, tulisan GUINNESS melekat dan terpampang hampir di seluruh sudut kota. Dublin begitu bangga dengan produk ini. Setiap wisatawan seolah disambut di bumi Guinness dengan penuh kebanggaan. "Welcome to the home of Guinness; taste it, and feel the atmosphere of it!" Saya jadi membayangkan, apa jadinya Dublin pada saat 250 years Guinness celebration nanti. Apakah Dublin akan menjadi lautan Guinness? Sepertinya begitu. Saya membayangkan kemeriahan itu ada di mana-mana. Tidak hanya di seputar Guinness storehouse atau di sudut-sudut bar sepanjang Temple Bar, tapi juga di setiap ruas jalan. Gelas-gelas bir berdenting, ditimpali teriakan massa yang larut dalam tawa sepanjang malam! Lautan manusia akan berpesta, dan Dublin akan penuh dengan kemeriahan yang tiada tara. 250 tahun adalah sebuah angka yang pantas untuk dirayakan. Tak sembarang merk dapat meraih kestabilan sebuah produk seperti Guinness di pasar dunia. Tapi Guinness sudah membuktikannya. Nama itu tetap kokoh meski pesaing menghantam dari berbagai penjuru. It's time to celebrate, it's time for a party! Arthur Guinness pantas berbangga. Mungkin dia tidak mengira kalau sejarah Guinness yang kiprahnya dimulai dari tahun 1759 dulu akan menjadi seperti sekarang. Namanya sekarang begitu mendunia, dan warga Dublin (termasuk masyarakat Irlandia lainnya) begitu memujanya. Arthur adalah sosok hebat yang membuat nama Dublin mencuat di pancang tertinggi. Warga Dublin mana yang tidak akan bangga? 5 tahun lalu, saya hanya memandang lesu dari jendela City Tour Bus yang perlahan bergerak meninggalkan gedung Guinness yang bersejarah itu. Dengan tiket di tangan, seharusnya saya tidak perlu ragu untuk melompat turun, dan menginjakkan kaki di The Home of Arthur Guinness itu. Tapi waktu yang sempit membuat saya hanya menahan perasaan itu dalam-dalam. Harusnya saya puas karena bisa melihat The centre of Arthur Guinness's original 1759 brewery itu dari dekat. Tapi tidak, saya belum masuk ke dalam. Saya harus datang lagi suatu waktu nanti. Apakah pada 250 years Guinness Celebration ini kesempatan itu datang? Entahlah ... Labels: Lomba
[Buku Gratis] KING & Sepeda Ontel Kinanti
Bagi-bagi buku lagiiiiiii ... kebetulan ada 2 judul yang baru terbit nih. KING dan SEPEDA ONTEL KINANTI. Saya pengen bagi buat teman-teman yang mau baca. Berhubung persediaannya terbatas, jadinya saya bakalan undi siapa yang berminat terhadap buku ini.
Caranya gimana?
Cukup jawab pertanyaan "Kenapa Saya Ingin Mendapatkan Buku (KING/Kinanti) Ini?" Nggak usah panjang-panjang, singkat dan padat aja.
- kirim jawaban melalui email ke gokildad@gmail. com
- Tulis subjek emailnya : KING untuk yang menginginkan Novel KING
- Tulis subjek emailnya : KINANTI untuk yang menginginkan Novel SEPEDA ONTEL KINANTI.
- Setiap orang boleh mengikuti dua kuis tersebut, dengan mengirimkan email dengan jawaban dan subjek yang berbeda.
- Tulis juga Nama, Alamat, dan No. Telepon yang bisa dihubungi. Kalo bisa sih HP.
Ada 2 (dua) eksemplar Novel KING (Gradien Mediatama,) dan 2 (dua eksemplar) novel SEPEDA ONTEL KINANTI (Dar!Mizan) bagi 4 (empat) orang yang beruntung.
Jawaban ditunggu selambat-lambatnya tanggal 1 Juli 2009, pukul 24.00 Wib. Pengumuman akan diumumkan secepatnya. Labels: Kinanti, King
Talkshow KING di Pesta Buku Jakarta
Ngobrol tentang novel adaptasi KING di Pesta Buku Jakarta 2009, Istora Senayan Jakarta, Minggu, 05 Juli 2009, pukul 18.30 - 20.00 WIB di Stand Kelompok Agromedia. See you there, ya. Labels: King, talkshow
Catatan Kaki atas Novel KING
Perjalanan proses penulisan hingga terbitnya novel KING, sungguh menakjubkan. Apa yang diungkap dalam tagline film tersebut, “A Story of Hope, A Struggle for Survival”, sungguh nyata memberikan kekuatan yang luar biasa kepada kami semua: Iwok sebagai penulis, Gradien Mediatama penerbit, dan tentu saja pihak Alenia Pictures (Ari Sihasale, Nia Zulkarnaen, dan Mirna Namira).
Berbeda dengan novel-novel adaptasi lainnya, novel KING berbasis ketat pada FILM secara akurat. Semua itu diramu dengan semangat idealisme yang tinggi; sebagai semangat untuk memberikan yang terbaik. Karena itu, Iwok selaku penulis, membutuhkan waktu khusus untuk menonton filmnya dan berkonsultasi terus-menerus secara langsung dengan Ale-Nia selaku sutradara dan produser, baik saat di Jakarta maupun di Bangkok. Sebagaimana kerja profesional lainnya, deadline adalah “garis kematian” yang paling ditakuti. Jadwal taping Kick Andy telah ditetapkan pada 10 Juni di MetroTV. Pada saat itu, buku sudah harus jadi untuk dibagi-bagikan kepada audiens. Tak bisa ditawar lagi. Tak ada negosiasi dengan momen. Maka, waktu pun bergerak serasa “sekali dayung 24 jam, dua-tiga hari terlampaui”. Dan benar saja, keajaiban masih terjadi. Pada Jumat tanggal 5 Juni, pukul 22.30 naskah selesai di-setting di kota Yogyakarta. Sabtu siang, naskah dicetak di Jakarta. Rabu siang, buku telah diantarkan ke MetroTV. Dan selebihnya, kami duduk manis selama shooting Kick Andy dengan perasaan lega. Serasa tulang-tulang yang menyanggah tubuh bisa direhatkan. * * * Film ini luar biasa! Bukan sekadar film bertemakan bulutangkis pertama di dunia. Tapi sebuah film motivasi yang patut ditonton oleh semua kalangan. Sejak awal, saya tidak pernah hendak mereduksi film ini hanya sekadar film anak-anak yang dibuat untuk mengisi masa liburan. Tidak. Apabila Anda terpukau dengan para motivator top di Indonesia dan dunia untuk kalangan usia dewasa, maka Anda harus menerima kenyataan bahwa film ini adalah film motivasi yang tiada tara. Banyak hal yang bisa diberikan orangtua kepada anak-anaknya, kecuali yang tersulit, yaitu motivasi. Banyak ilmu yang bisa disajikan guru-guru dan sekolah kepada anak-anak, kecuali yang tersulit, yaitu motivasi. Kata, kalimat, dan paragraf yang inspiratif dan motivatif bukan ucapan fasih sebuah wacana. Melainkan sebuah show, tontonan teladan, yang bila perlu … tanpa kata-kata. Menurut saya, Alenia Pictures melalui film KING telah menyediakan sebuah menu bergizi yang selama ini (bahkan hingga abad-abad ke depan), maaf … belum dituntaskan oleh guru, orangtua, dan sekolah. Maka, berterimakasihlah untuk kisah ini, yang tak ternilai harganya. Menonton Denias, film sebelumnya dari Alenia Pictures, membuat putri saya yang kala itu berusia 8 tahun menangis di bioskop. Kini, setelah menamatkan novel KING, ia mengaku menangis tiga kali. Usia boleh membedakan. Namun seberapa pun tingginya usia Anda, saya meyakini, kisah ini akan mampu membuat Anda menangis pula–setidaknya hanya di dalam hati dan dilakukan diam-diam. [Gradien] source dari sini.Labels: King
|